Islam di Jepang

Menengok perkembangan agama Islam di Jepang memang terkihat sangat lama. Tidak seperti perkembangan Islam di negera-negara barat yang lebih dinamis. Budaya jepang yang sangat dihormatioleh msyarakat Jepang menajdi factor utama lambatnya dinamisasi dakwah Islam di Jepang. Sehingga perlu semangat yang tinggi untuk beralih agama bagi warga asli Jepang.

Seorang pengurus Japan Muslim Association cabang Kyoto. Ko Kanata mengatakan diantara faktor-faktor penyebab Islam kurang berkembang adalah karena terputusnya atau hilangnya kontak anatara Islam dan Jepang.

islam di negara sakura

Dulu memang ada warga Jepoang yang sudah menganut Islam. Tapi mereka semua tidak ada yang menyisakan keturunan. Mereka semua wafat sekitar tahun 1930-1940an.

Jepang kembali mengenal agama Islam ketika terjadi booming minyak bumi apda tahun 1960. Mulai tahun tersebut Jepang kembali membuka pintu untuk agama Islam lewat perantraan negra-negara Timur Tengah.

Maka lama-lama Islam pun menggeliat di Jepang. Komunitas-komunitas Islam mulai bermunculan. Walaupun muslim di Jepang berjumlah sekitar 70ribu orang. Tapi ini termasuk kelompok minotritas di Jepang.

Bagaimanapun perkembangan Islam seamkin lama semakin bertambah. Semangat dakwah muslim di Jepang khususnya mahasiswa-mahasiswa muslim di Jepang yang menumbuhkan dakwah.

Sebagai Negara yang tidak mengenal tauhid dan lebih mementingkan aspek dunia.  Jepang memang menjadi persoalan yang cukup merepotkan khsuusnya untuk mahasiswa dan pendatang muslim. Mereka kesulitas untuk menemukan tempat ibadah, makanan halal, baju muslim seperti gamis terbaru, gamis pesta dan aspek-aspek muslim lainnya.

Maka untuk mengatasi hambatan ini mahasiswa muslim di Jepang berinisiatif untuk membuat kelompok study islam. Hal ini bertujuan agar organisasi mereka terdaftar dan bisa memperoleh hak untuk mendapatkan makanan halal dan tempat ibadah.

Jepang mengenal prinsip untuk menghindari meiwaku suru-mengganggu orang lain-yang berakibat panggilan suara azan tidak bisa terdengar di sana.

Dalam ikhtiar mereka membangun masjid. Mahasiswa-mahasiswa muslim menggalang dana. Dan dukungan ternyata datang dari mahasiwa muslim lainnya dari seantero Jepang yang merespon baik usaha peggalangan dana itu.

Dari situ mahasiwa muslim di Universitas Chiba bisa menyewa ruko untukdigunakan sebagai tempat berjualan makanan halal dan tempat sholat di kampus.

Dinatara warga pendatang muslim di Jepang warga Paksitan dan Bangladesh yang sangat getol berdakwah dan membangun masjid. Mereka bahakan bisa membangun masjid dari hasil perolahn zakat mereka. Memang kebanyakan warga Pakistan dan Bangladesh datang ke Jepang untuk tinggal dan berkeluarga dengan warga asli Jepang sekaligus berdagang.

Walaupun yang memebangun masjid adalah orang Pakistan dan Bangladesh tapi yang meramaikan masjid adalah orang Indonesia yang tinggal dan sekolah disana.

Sumber : MajalahUmmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *